Jakarta – Donasi kripto telah melampaui USD 1 miliar atau Rp 16,5 triliun selama tahun 2024, didorong oleh meningkatnya valuasi aset digital dan semakin jelasnya regulasi kripto.
Hal itu diungkapkan oleh organisasi donasi kripto, The Giving Block.
Melansir Cointelegraph, Sabtu (5/4/2025) The Giving Block mencatat bahwa sekitar 16% dari sumbangan kripto digunakan untuk pendidikan, sementara 14% digunakan untuk pengobatan dan upaya terkait kesehatan.
The Giving Block sendiri juga meluncurkan upaya bantuan darurat berbasis kripto untuk Myanmar dan Thailand guna mengumpulkan USD 500.000 untuk wilayah yang mengalami kerusahaan.
Organisasi tersebut memperkirakan donasi kripto akan mencapai USD 2,5 miliar atau Rp 41,4 triliun pada tahun 2025 karena meningkatnya perolehan kekayaan kripto dan meningkatnya adopsi menyusu; lanskap politik yang lebih menguntungkan.
Sumbangan kripto, dibandingkan dengan sumbangan fiat tradisional, menawarkan keuntungan unik, terutama dalam keadaan darurat,” kata Anndy Lian, penulis dan pakar blockchain antarpemerintah.
Kecepatan adalah faktor kunci—transaksi pada jaringan blockchain dapat diselesaikan dalam hitungan menit, melewati penundaan bank atau perantara, yang sangat penting ketika waktu menyelamatkan nyawa, ujarnya.
Di daerah yang dilanda bencana seperti Myanmar atau Thailand, di mana infrastruktur mungkin terganggu, kripto dapat mencapai penerima secara langsung melalui dompet digital, tanpa memerlukan kode SWIFT atau transfer kawat, jelasnya.
Baru baru ini, bursa kripto Binance juga mengumumkan bahwa lembaga filantropinya, Binance Charity, dan salah satu pendirinya Changpeng Zhao (CZ) akan menyalurkan bantuan pada korban yang terdampak bencana gempa di Myanmar dan Thailand.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. www.wmhg.org tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.