Jakarta Sebanyak 500 perusahaan besar di Amerika Serikat, atau dikenal sebagai Fortune 500 mengalami kerugian total sebesar USD 5,4 miliar atau sekitar Rp.88 triliun, imbas gangguan teknologi global yang dipicu oleh pembaruan CrowdStrike.
Hal itu menurut estimasi perusahaan asuransi, Parametrix. Mengutip The Guardian, Jumat (26/7/2024) Parametrix menjelaskan bahwa nilai kerugian tersebut tidak termasuk yang dialami Microsoft, raksasa teknologi yang sistemnya mengalami kegagalan yang meluas dalam gangguan teknologi global.
Perusahaan-perusahaan di bidang perbankan dan perawatan kesehatan diperkirakan paling terdampak, menurut Parametrix, serta sejumlah maskapai penerbangan besar.
Adapun total kerugian yang diasuransikan untuk perusahaan-perusahaan Fortune 500 non-Microsoft mencapai antara USD 540 juta dan USD 1,08 miliar.
Seperti diketahui, berbagai industri masih berproses untuk memperbaiki kerusakan akibat gangguan CrowdStrike, yang menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan, menyebabkan kekacauan di rumah sakit, dan sistem pembayaran macet dalam apa yang oleh para ahli digambarkan sebagai kegagalan TI terbesar dalam sejarah.
CrowdStrike, sebuah perusahaan keamanan siber yang berbasis di Texas, telah kehilangan sekitar 22% dari nilai pasar sahamnya sejak gangguan tersebut.
Perusahaan juga telah berulang kali meminta maaf karena menyebabkan krisis teknologi internasional.
Penyebab Utama Kegagalan
Dalam sebuah laporan, Crowdstrike mengungkapkan bahwa penyebab utama kegagalan tersebut berasal dari pembaruan yang didorong ke platform Falcon andalannya, yang berfungsi sebagai layanan berbasis cloud yang dimaksudkan untuk melindungi bisnis dari serangan dan gangguan siber.
Pembaruan tersebut berisi bug yang menyebabkan 8,5 juta mesin Windows mogok secara massal.
CrowdStrike menyatakan dalam postmortemnya bahwa mereka berencana untuk meningkatkan pengujian perangkat lunak sebelum mengeluarkan pembaruan di masa mendatang, dan hanya meluncurkan pembaruan tersebut secara bertahap untuk mencegah kegagalan yang meluas dan serentak yang terjadi minggu lalu.
Perusahaan juga berencana untuk menerbitkan laporan yang lebih mendalam tentang penyebab pemadaman tersebut dalam beberapa pekan mendatang.
CrowdStrike adalah salah satu firma keamanan siber terkemuka di dunia, dan memiliki valuasi sekitar USD 83 miliar sebelum pemadaman tersebut. Perusahaan tersebut melayani sekitar 538 perusahaan Fortune 1000, menurut situs webnya, dan beroperasi di seluruh dunia.