Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan terjadi penurunan daya beli masyarakat Indonesia pada periode sebelum Ramadan dan Idul Fitri atau Libur Lebaran 2025.
Hal itu ditunjukkan pada hasil survei atas penjualan eceran di Tanah Air. Dilaporkan, Indeks Penjualan Riil pada Februari 2025 diprediksi turun 0,5 persen secara tahunan atau dari Februari 2024. Selain itu, penjualan eceran pada Februari juga diprediksi hanya tumbuh sedikit di angka 0,8 persen dari Januari 2025 atau secara bulanan.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira juga melihat ada indikasi penurunan daya beli masyarakat yang signifikan. Dia menyebut, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak penurunan daya beli.
Angga mengutip analisis dari ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) penurunan pendapatan pada pedagang informal dan UMKM dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, sektor ritel juga mengalami perlambatan,” kata Angga kepada www.wmhg.org di Jakarta, Jumat (28/3/2025).
Peritel yang menyasar kelas menengah ke bawah, seperti Alfamart dan Indomaret, hanya mencatat pertumbuhan penjualan masing-masing sebesar 10% dan 4%, sementara Matahari Department Store mengalami penurunan penjualan sebesar 2,6%,” paparnya.
Angga menilai, hal ini ini menunjukkan tidak hanya kelompok ekonomi bawah yang terdampak penurunan daya beli, tetapi juga masyarakat kelas menengah dan atas yang cenderung menahan belanja. Adapun sektor jasa, termasuk perhotelan dan restoran, juga merasakan dampak negatif.
Angga menuturkan, penurunan itu menyusul pemangkasan belanja pemerintah untuk perjalanan dinas, yang berisiko memicu badai pemutusan hubungan kerja (PHK).