Jakarta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku miris atas temuan pekerja migran Indonesia (PMI) yang tidak terlindungi maksimal. Menurutnya, persoalan itu harus ditangani secara bersama-sama.
Erick Thohir menjelaskan kerap menemukan ada pekerja migran yang kurang terlindungi saat melakukan kunjungan kerja di luar negeri.
Saya sampaikan beberapa kali saya melakukan perjalanannya, saya bisa melihat bagaimana pekerja migran kita itu dalam kondisi-kondisi yang kurang maksimal dalam perlindungannya, ungkap Erick di Kantor Kementerian Perlindungan Pekerjaan Migran Indonesia (P2MI), di Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Dia mengisahkan, pernah bertemu dengan salah satu PMI yang harus menggunakan alat bantu untuk berjalan. Namun, pekerja itu terpaksa pulang ke Tanah Air karena kontraknya diputus.
Erick bilang persoalan itu harus ditangani secara bersama-sama. Bukan menjadi tanggung jawab satu kementerian atau lembaga tertentu saja.
Ini bukan salah dari Kementerian atau Pemerintah, tetapi bagaimana kita harus ada special effort memastikan satu pintu dalam pengirim pekerja migran itu harus menjadi satu kebijakan yang menyeluruh, tuturnya.
Erick turut menyoroti banyaknya PMI merupakan perempuan. Pasalnya banyak pekerja migran menangani pekerjaan domestik sebagai asisten rumah tangga di negara lain.
Karena jangan sampai marwah daripada para perempuan Indonesia ini tidak ada perlindungan sama sekali yang disampaikan Pak Karding itu hampir 80 persen adalah domestic worker dan perempuan, beber dia.