Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan telah menyentuh level 16.620 terhadap dolar AS.
Merespons hal tersebut, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan pada dasarnya, pelemahan Rupiah didorong oleh interaksi yang kompleks antara tekanan ekonomi internasional dengan kekhawatiran keuangan domestik.
Pelemahan Rupiah Indonesia dipengaruhi oleh penguatan Dolar AS yang telah pulih dari titik kritis, di saat ketidakpastian ekonomi global, mendorong investor untuk mencari aset safe haven seperti Dolar AS,” kata Sutopo dikutip Selasa (25/3/2025).
Sutopo menuturkan, kekhawatiran seputar potensi pengenaan tarif AS dan ekspektasi the Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi juga menjadi faktor pendukung.
Sementara di dalam negeri, ada kekhawatiran yang berkembang tentang kesehatan fiskal Indonesia, terutama mengenai potensi peningkatan defisit anggaran.
Meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat, kekhawatiran tentang defisit transaksi berjalan atau inflasi dapat memengaruhi sentimen investor. Fluktuasi sentimen pasar, seperti kekhawatiran tentang stabilitas politik atau kebijakan ekonomi, masih menjadi pemicu pelemahan Rupiah.
Sampai kapan Rupiah anjlok?
Sutopo mengatakan, durasi pelemahan Rupiah terhadap dolar AS bergantung pada beberapa faktor, termasuk kondisi ekonomi global, kebijakan fiskal domestik, dan sentimen investor.
Saat ini, Rupiah tengah menghadapi tekanan akibat menguatnya dolar AS, didorong oleh kebijakan agresif dari Federal Reserve AS dan ketidakpastian ekonomi global. Di dalam negeri, kekhawatiran tentang kesehatan fiskal dan inflasi Indonesia juga turut berperan.
Rupiah mungkin akan terus menghadapi tantangan dalam waktu dekat, terutama jika risiko ekonomi global terus berlanjut dan suku bunga AS tetap tinggi. Namun, kebijakan strategis pemerintah, seperti mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi, dapat membantu meredakan tekanan ini dari waktu ke waktu,” ujarnya.