wmhg.org – Gunung Marapi yang terletak di Bukittinggi, Sumatera Barat, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan erupsi pada Rabu pagi (3/4) pukul 06.25 WIB.
Berdasarkan catatan Pos Gunung Api (PGA) Gunung Marapi, erupsi tersebut berlangsung selama sekitar 57 detik dengan amplitudo 1,6 milimeter. Kolom abu vulkanik teramati mencapai ketinggian sekitar 350 meter di atas puncak gunung, dengan warna kelabu dan intensitas sedang hingga tebal yang condong ke arah timur laut.
Sebelumnya, pada Selasa dini hari (1/4), gunung ini juga mengalami erupsi pukul 22.33 WIB meskipun tinggi kolom abu tidak terlihat. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,6 milimeter dan durasi sekitar 34 detik. Letusan ini disertai dentuman keras yang terdengar oleh sejumlah warga di Kabupaten Tanah Datar dan Nagari Padang Lua, Kabupaten Agam.
Dikutip viaAntara,statusGunung Marapi saat ini masih berada pada Level II (Waspada) menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dengan status ini, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat.
Masyarakat, pendaki, dan pengunjung dilarang memasuki wilayah dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek karena potensi bahaya erupsi masih tinggi. Selain itu, warga yang bermukim di sekitar lembah atau aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi diminta untuk selalu waspada terhadap ancaman banjir lahar, terutama saat musim hujan.
Bagi warga yang tinggal di sekitar Gunung Marapi, kewaspadaan harus terus ditingkatkan mengingat aktivitas vulkanik gunung ini masih fluktuatif. Salah satu langkah penting adalah memantau informasi resmi dari PVMBG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), atau pihak berwenang lainnya melalui saluran komunikasi yang dapat dipercaya, seperti media sosial, radio, atau aplikasi peringatan bencana. Informasi yang akurat dan cepat sangat penting untuk mengambil keputusan yang tepat, terutama jika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang memerlukan evakuasi.
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Marapi dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan dan mata. Oleh karena itu, warga disarankan untuk menyiapkan masker dan kacamata pelindung sebagai langkah antisipasi. Jika abu vulkanik mulai menyebar, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan menutup rapat jendela serta pintu untuk meminimalisir paparan abu. Bagi yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma atau bronkitis, disarankan untuk menyiapkan obat-obatan yang diperlukan dan menghindari paparan abu vulkanik sebisa mungkin.
Potensi banjir lahar juga menjadi ancaman serius, terutama bagi warga yang tinggal di dekat aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi. Banjir lahar dapat terjadi ketika material vulkanik yang terendapkan di lereng gunung terbawa oleh air hujan. Jika terjadi hujan deras, warga harus segera menjauhi sungai dan mencari tempat yang lebih tinggi. Penting juga untuk mengenali tanda-tanda alam seperti gemuruh atau peningkatan debit air secara tiba-tiba, yang dapat menjadi indikasi awal datangnya banjir lahar.
Kesiapan menghadapi situasi darurat juga perlu diperhatikan. Warga disarankan untuk menyimpan dokumen penting seperti akta kelahiran, kartu keluarga, dan surat-surat berharga lainnya dalam tempat yang mudah dibawa jika diperlukan evakuasi mendadak. Selain itu, menyiapkan tas darurat yang berisi makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, pakaian ganti, senter, dan baterai cadangan dapat sangat membantu dalam situasi darurat.
Koordinasi dengan tetangga dan pihak setempat juga sangat penting. Membentuk kelompok siaga bencana di tingkat RT/RW dapat meningkatkan efektivitas dalam menghadapi situasi darurat. Dengan saling berbagi informasi dan bekerja sama, masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk. Selain itu, mengetahui rute evakuasi dan titik kumpul yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat dapat meminimalisir kepanikan jika terjadi erupsi besar.